Covid-19

 

Mengenal Covid-19

Oleh

Ammi Thoibah Nasution

Pandemi covid-19 mengharuskan manusia mengubah pola aktivitas keseharian. Sekarang kita memasuki zaman dimana pertemuan dan  perkumpulan disedikitkan. Dan diuji dengan empati dan kepedulian antar sesama. Social distancing menjadi pilihan berat bagi setiap negara dalam menerapkan kebijakan untuk pencegahan penyebaran covid-19, karena kebijakan ini berdampak negatif terhadap segala aspek kehidupan. Pembatasan interaksi sosial masyarakat dapat menghambat laju pertumbuhan dan kemajuan dalam berbagai bidang kehidupan, namun tidak ada pilihan lain, karena cara ini adalah yang paling efektif dalam menghadapi penyebaran covid-19.

Kebijakan social distancing berakibat fatal terhadap roda kehidupan manusia, masalah ekonomi yang paling terasa dampaknya, karena hal ini menyentuh berbagai lapisan masyarakat, tersendatnya laju ekonomi mengakibatkan tertutupnya kebutuhan primer manusia untuk memenuhinya. Tak terkecuali bidang pendidikan ikut juga terdampak kebijakan ini. Keputusan pemerintah yang mendadak dengan meliburkan atau memindahkan proses pembelajaran dari sekolah/madrasah menjadi di rumah, membuat kelimpungan banyak pihak.

Ketidaksiapan sekolah/madrasah melaksanakan pembelajaran daring menjadi faktor utama kekacauan ini, walaupun sebenarnya pemerintah memberikan alternatif solusi dalam memberikan penilaian terhadap siswa sebagai syarat kenaikan atau kelulusan dari lembaga pendidikan disaat situasi darurat seperti saat ini. Peralihan cara pembelajaran ini memaksa berbagai pihak untuk mengikuti alur yang sekiranya bisa ditempuh agar pembelajaran dapat berlangsung, dan yang menjadi pilihan adalah dengan pemanfaatan teknologi sebagai media pembelajaran daring. Penggunaan teknologi ini juga sebenarnya bukan tanpa masalah, banyak faktor yang menghambat terlaksananya efektivitas pembelajaran daring ini.

Blended learning yaitu proses pembelajaran dengan memadukan antara pembelajaran offline dengan online. Proses pembelajaran dilaksanakan via online melalui berbagai platform seperti facebook, whatsapp group, instagram, telegram, google classroom, youtube, dan sebagainya. Dinamika yang terjadi pada proses perubahan yang ekstrem ini memerlukan strategi yang tepat dari berbagai pihak.

Harus diakui bahwa tidak semua guru melek teknologi terutama guru generasi X yaitu yang lahir tahun 1980 ke bawah yang pada masa mereka penggunaan teknologi belum begitu masif. Sebenarnya mereka bukan tidak bisa kalau mau belajar, pasti mampu karena prinsipnya guru adalah manusia pembelajar yang harus selalu siap menghadapi perubahan zaman sekaligus mengikuti perkembangannya.

Keadaan hampir sama juga di alami oleh para siswa, tidak semua sudah terbiasa menggunakan teknologi dalam kehidupan sehari-harinya. Di sekolah pun mereka harus rebutan dalam menggunakan perangkat teknologi pendukung pembelajaran karena keterbatasan sarana yang dimiliki oleh sekolah/madrasah bahkan mungkin mereka tidak dikenalkan teknologi dalam pembelajaran.

Selain itu, kepemilikan perangkat pendukung teknologi juga menjadi masalah tersendiri. Bukan rahasia umum bahwa kesejahteran guru masih sangat rendah, jadi jangankan untuk memenuhi hal-hal tersebut, untuk memenuhi kebutuhan pokok keluarganya saja masih banyak guru yang kesulitan. Hal yang sama pun terjadi pada siswa, karena tidak semua orangtua mereka mampu memberikan fasilitas teknologi kepada anak-anaknya. Bahkan kalau pun mereka punya fasilitas namun tidak digunakan untuk media pendukung pembelajaran, karena ketidaktahuan orang tua dalam membimbing anaknya untuk pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran.

Pembelajaran daring tidak bisa lepas dari penggunaan jaringan internet. Tidak semua sekolah/madrasah sudah terkoneksi ke internet sehingga guru-gurunya pun dalam keseharian belum terbiasa dalam memanfaatkannya. Kalaupun ada yang menggunakan jaringan seluler terkadang jaringan yang tidak stabil karena letak geografis yang masih jauh dari jangkauan sinyal seluler.

Jaringan internet yang sangat dibutuhkan dalam pembelajaran daring menjadi masalah tersendiri bagi guru dan siswa. Kuota yang dibeli untuk kebutuhan internet menjadi melonjak dan banyak diantara guru juga orang tua siswa yang tidak siap untuk menambah anggaran dalam menyediakan jaringan internet. Metode pembelajaran daring ini sebenarnya sudah bukan barang baru, sebab di beberapa negara terutama di negara maju kegiatan ini sudah terbiasa. Proses pembelajaran di perguruan tinggi apalagi, tidak hanya di luar negeri namun di Indonesia juga sudah terbiasa dilaksanakan, namun untuk pembelajaran pada tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah belum begitu populer sehingga diperlukan persiapan yang sungguh-sungguh agar bisa berjalan dengan baik.

Kegiatan PBM yang dilaksanakan secara daring memaksa orang tua untuk terlibat langsung dalam kegiatan belajar anak-anaknya, banyak pengalaman yang mereka rasakan ketika harus mendampingi. Ramai diberbagai media sosial yang menceritakan pengalaman mereka selama mendampingi anak-anaknya belajar baik positif maupun negatif. Seperti misalnya ternyata ada orang tua yang sering marah karena mendapatkan anaknya yang sulit diatur sehingga mereka tidak tahan dan menginginkan anak mereka belajar kembali di sekolah.

Kejadian ini memberikan kesadaran kepada orang tua bahwa mendidik anak itu ternyata tidak mudah, diperlukan ilmu dan kesabaran yang sangat besar. Sehingga dengan kejadian ini orang tua harus menyadari dan mengetahui bagaimana cara membimbing anak-anak mereka dalam belajar, diharapkan setelah mendapatkan pengalaman ini para orang tua mau belajar bagaimana cara mendidik anak-anak mereka di rumah. Fungsi rumah saat ini menjadi bertambah yaitu sebagai sekolah, orang tua harus belajar bagaimana mendidik dan memberikan ilmu pengetahuan kepada anak, sebab fungsi guru atau sekolah hanya sebagai fasilitator.

Program-program pendidikan yang dilaksanakan di sekolah/madrasah yang dulu dianggap sangat penting karena berpengaruh terhadap kualitas pendidikan kini seolah tak berarti. Pemerintah membatalkan Ujian Nasional (UN), Ujian sekolah berstandar Nasional (UASBN), melarang kegiatan-kegiatan yang mengumpulkan orang banyak dan program penting lainnya yang sudah bisa dilakukan di sekolah/madrasah. Kegiatan-kegiatan tersebut kini diganti dengan aktifitas yang harus dilakukan secara daring, walaupun saat ini pemerintah tidak mewajibkan semua program sekolah/madrasah bisa dilaksanakan dengan cara daring karena situasi saat ini dalam keadaan darurat. Namun saya meyakini bahwa kegiatan daring saat ini bisa  menjadi proses awal perubahan paradigma tentang pelaksanaan PBM dalam pendidikan dari mulai pra sekolah sampai pendidikan tinggi.

Oleh karena itu sekolah/madrasah harus mulai memikirkan sarana dan prasarana penunjang untuk pembelajaran daring, melatih para guru agar menguasai teknologi pendukung pembelajaran daring serta sosialisasi kepada siswa dan orang tua tentang perubahan metode pembelajaran yang akan dilaksanakan.

Situasi saat ini merupakan tantangan bagi dunia pendidikan, mengubah manajemen pengelolaan pendidikan sangat diperlukan untuk mengimbangi perubahan yang sangat cepat. Metode pembelajaran manual dan konvensional saat ini mulai tergantikan dengan sistem digital daring yang tanpa dibatasi ruang dan waktu. Peran sekolah/madrasah saat ini lebih dinamis, bukan lagi sekedar tempat berkumpul guru dan siswa yang akan melaksanakan PBM. Setelah menetapkan kebijakan ini pemerintah juga seharusnya memperhatikan perangkat pendukung agar masyarakat bisa mengikuti kebijakan ini dengan baik tanpa akses negatif dan membuat permasalahan baru, sebab keberagaman kemampuan ekonomi, sosial, geografi dan lain sebagainya yang ada di Indonesia.

Setiap perubahan peradaban pasti akan memberikan akibat positif dan negatif, namun semua orang harus bisa mengikuti perubahan tersebut yang tentunya dibatasi dengan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat itu sendiri. Manusia merupakan makhluk sosial yang tidak mungkin bisa hidup sendiri tanpa interaksi dengan orang lain baik lokal maupun global.

Corona virus telah mempersatukan perbedaan menjadi kesamaan penderitaan dan kesamaan untuk berjuang. Bukan hanya berjuang untuk hidup, tapi melindungi kehidupan. Persatuan dan kesatuan semakin terasa. Sikap gotong royong ditengah masyarakat semakin tumbuh. Semua bahu membahu untuk menghentikan penyebaran virus corona. Di banyak sudut, kita juga melihat banyak lembaga-lembaga/relawan ataupun individu yang mengulurkan bantuan kepada saudara-saudara kita yang terkena dampak wabah corona. Semua dilakukan dengan hati yang tulus sebagai perwujudan dari rasa persatuan dan kesatuan kita sebagai sesama bangsa dan sesama makhluk ciptaan Nya.

Corona virus menjadi alasan untuk keluarga itu bisa berkumpul kembali, menyadarkan yang berlebihan rezeki untuk senantiasa berbagi, menegaskan kepada mereka yang egois bahwa sesungguhnya kita tetaplah makhluk sosial, tumpah tindih saling membutuhkan. Ya.. corona virus ini banyak menyadarkan untuk senantiasa bersyukur dan menghargai hal-hal kecil yang dianggap sepele dan diabaikan. Corona virus sudah menjadi sebab kesadaran, sebab kebersatuan, sebab kepedualian, dan jadi teguran bagi semua orang.

 

Description: C:\Users\User\AppData\Local\Microsoft\Windows\Temporary Internet Files\Content.Word\IMG_20191110_151759_535.jpg

Biodata Penulis

Ammi Thoibah Nasution Lahir pada tanggal 1 Oktober 1999. Pendidikan Sekolah Dasar Di SDN 093 Gunung Tua Panyabungan. Pendidikan Sekolah Menengah Pertama Di SMPN 2 Panyabungan, dan Pendidikan Sekolah Menengah Atas di SMAN 1 Panyabungan dan sekarang sedang menjalani Pendidikan S-1 di IAIN  Padangsidimpuan Jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) Fakuktas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK). amminasution0@gmail.com Kontak HP : 083188977702

 

 

 


Komentar